Search

Selasa, 25 Maret 2014

Pemimpi, tak bernyali

Melihatmu seperti melihat warna
Menjadikan yang hampa menjadi seakan bernyawa
Mendengar suaramu seperti alunan nada
Lembut namun berirama
Suara yang tak begitu nyata namun tersirat jelas
Mata yang kugunakan untuk bertanya, mungkin tak tau apa yang aku rasa
Gerak lembut tanganmu yang menyapa setiap helai rambut tubuhku
Hembusan nafas yang tak perlu lagi membuatmu bicara, apa itu rasa
Bahu yang kokoh, seakan tak pernah lelah menopang setiap titik kelemahan yang aku punya
Dekapanmu, seolah ku tak ingin memiliki ruang lain selain diantara kedua tanganmu
Dan aku tau, permaisuri sekalipun pasti iri
Jika mungkin ini dusta, aku rela berdosa
Dan mungkin bila aku terlalu lemah, maka aku hanya akan lemah di bahumu, tidak pada hidupku
Kadang aku berpikir, berharap ada seorang peri, dan memintanya untuk mengubahku menjadi permaisuri sempurna
Ketika itulah aku benar-benar merasa bahwa aku seorang pecundang tanpa harapan
Pengecut yang hanya mengerti tentang impian, impian dan tak tau kemana harus membawa angan
Genggamanmu, membuatku malu melihat diriku sendiri
Aku ini apa?
Telapak tanganku tak memiliki asa pasti, tak pernah berhasil mengukir prestasi
Bahkan mungkin tak layak kau genggam
Bahkan aku tak tau apa mauku
Ya, aku memang pemimpi
Pemimpi yang ingin bangun ketika tersentuh oleh genggamanmu
Cinta memang kejam, secepat ini ia merubahku
Secepat itu pula mungkin aku akan hilang dari bayanganmu
Bukan
Bukan cinta yang kejam, tapi aku yang lemah
Entahlah...
Apapun itu
Aku hanyalah aku
Aku yang hanya begini
Tapi aku tau, hidup itu mengalir
Klise memang
Lalu apa harus aku menjadi ragu?
Apapun yang aku jalani, apapun yang aku alami
Selalu ada pesan baik
Sekalipun cinta tak memiliki jalan cerita yang baik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar